Pages

Rabu, 13 Februari 2013

The True Talent Tidak Sekedar Mencari Uang


Rencana suksesi (Succession Plan) merupakan suatu program yang perlu dimiliki oleh setiap perusahaan. Langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan oleh perusahaan dalam mempersiapkan generasi penerus, bagaimana mencari orang-orang potensial, serta strategi untuk mengidentifikasi orang-orang potensial itu dijelaskan dalam wawancara berikut ini.

1.      Menurut pandangan bapak, apa yang harus dilakukan oleh perusahaan dalam melakukan suksesi, baik untuk posisi eksekutif maupun posisi kunci lainnya?
Perusahaan mesti melihat proses suksesi itu secara menyeluruh. Pada umumnya, suksesi dipandang sebagai proses pergantian pucuk pimpinan atau posisi-posisi tinggi saja. Cara pandang seperti itu laksana melihat pohon dari pucuknya saja. Padahal, kekuatan pohon itu sangat ditentukan oleh akarnya. Di perusahaan, akar suksesi itu adalah seluruh karyawan termasuk para junior, fresh graduate, trainee-trainee muda, dan orang-orang yang menangani tugas-tugas atau posisi yang dianggap tidak keren.

Mulai sekarang, perusahaan mesti melihat karyawan-karyawan itu sebagai akar atau bahan baku utama untuk merancang proses suksesi pucuk-pucuk pimpinannya dimasa depan. Dengan cara pandang itu, maka perusahaan tidak perlu lagi kalang kabut dan baru pusing tujuh keliling ketika secara tiba-tiba orang-orang kuncinya mengundurkan diri, atau di bajak oleh perusahaan lain. Mengembangkan akar-akar karyawannya itu membuka peluang lebih besar bagi mereka untuk tampil sebagai pucuk pimpinan dimasa depan.

2.        Apa langkah-langkah yang dilakukan pimpinan maupun pemilik untuk mempersiapkan generasi penerus?
Mesti mulai dari proses rekrutmennya. Kebanyakan perusahaan merekrut karyawan hanya untuk sekedar mengisi posisi yang kosong pada saat itu. Misalnya, ketika kursi Product Manager kosong, mereka pasang iklan atau menggunakan jasa head hunter untuk mencari product manager. Mulai sekarang, cara pandangnya mesti diubah, bukan lagi sekedar mencari orang untuk posisi yang kosong pada saat ini; melainkan mencari kandidat yang bisa diharapkan dapat memegang tampuk kepemimpinan yang lebih tinggi daripada posisi yang ada saat ini.

Kenapa demikian, karena banyak bukti yang menunjukkan jika orang yang dihire untuk posisi saat ini itu pada akhirnya akan menjadi deadwood, ketika perusahaan semakin berkembang, dan semakin besar tuntutannya. Dan yang umum terjadi adalah, orang dihire untuk suatu posisi dan terus bertengger diposisi itu sampai mereka pensiun, atau loncat lagi ke perusahaan lain. Ini merupakan sebuah hambatan yang sering menghalangi proses suksesi yang bisa diatasi dengan cara diatas tadi.

3.      Apa saja kriteria umum sehingga seseorang terpilih menjadi CEO yang baru?
Saya berpendapat bahwa kita harus melepaskan diri dari kriteria umum yang didefinisikan oleh pakem-pakem SDM lama. Mengapa? Karena kita justru membutuhkan CEO yang unik, yang tidak terikat oleh pakem atau kriteria umum itu. Repot ya kalau kita memiliki CEO yang tidak unik, Dia nantinya akan memimpin perusahaan dengan gaya yang begitu-begitu saja. Padahal, pasar sangat berpihak kepada keunikan. Lihat saja, bukankah perusahaan-perusahaan yang punya produk atau jasa yang unik selalu unggul dipasar? So, untuk menjadi perusahaan yang benar-benar tangguh dimasa depan, maka kita mesti memilih seorang CEO yang benar-benar unik dan mampu mengeksplorasi keunikan dirinya menjadi strategy bisnis dan kepemimpinan yang unik.  Agar bisa membawa perusahaan kepada keunggulan yang sulit disamai oleh pesaingnya.

Contoh pakem lama misalnya; Visioner, Punya wawasan luas, Berani mengambil resiko dan sebagainya. Bagi saya, itu bukan kriteria umum seorang CEO, melainkan kriteria standar yang wajib dimiliki oleh setiap eksekutif bahkan dari level yang paling bawah sekalipun. Ingatlah penjelasan saya tentang akar dari pohon suksesi tadi.

4.      Apa strategi untuk mengidentifikasi posisi kunci dalam organisasi dan orang-orang potensial? Apa dasar penentuan posisi kunci dan bagaimana pula mendefinisikan orang-orang potensial?
Ada hal penting yang sering dilupakan oleh kebanyakan perusahaan. Termasuk perusahaan kelas dunia. Yaitu; bahwa yang disebut posisi kunci itu adalah yang menghasilkan revenue. Makanya kita sering menyebut posisi lain sebagai ‘supporting function’.  Kita perlu mengubah paradigma itu. Mulailah dengan melihat dokumen strategic planning perusahaan. Dua puluh tahun lagi, perusahaan akan menjadi seperti apa? Kan begitu. Dalam dokumen strategis itu pasti ada uraian tentang posisi-posisi yang akan sanggup membawa perusahaan kepada tujuan jangka panjangnya itu. Nah dari sana, barulah kita bisa mendefinisikan posisi kunci seperti apa yang wajib kita perkuat. Kualifikasinya seperti apa, jumlahnya berapa, dan bagaimana kita bisa mendapatkannya.

Mengidentifikasi orang-orang potential pun, mesti dimulai dari proses rekrutmennya. Kebanyakan boss terlampau mengandalkan orang HRD untuk proses rekruitmen stafnya.  Saya justru menyarankan para eksekutif berada digaris terdepan proses rekrutmen, sedangkan HRD berperan sebagai fasilitatornya. Nyaris tidak mungkin mendapatkan karyawan paling potensial sesuai kebutuhan kita, jika sejak dalam proses rekrutmennya pun kita mengandalkan orang atau departemen lain. Sebagai eksekutif, kitalah yang paling berkepentingan. Maka sewajarnya jika kita memberikan perhatian dan mengambil peran yang lebih signifikan dalam proses rekrutmen.

5.      Bagaimana perusahaan mencoba mengembangkan dan meretensi orang-orang potensial itu?
Dalam pengamatan saya, kebanyakan perusahaan masih melakukan retensi karyawan potensialnya dengan iming-iming uang atau hal lain berupa materi. Padahal, pada tingkatan tertentu; materi sudah bukan lagi menjadi kebutuhan utama talenta potensial. Simak saja misalnya; talenta yang rela pindah dengan gagi yang relatif tidak berubah, hanya karena merasa di perusahaannya yang lama tidak bisa mengaktualisasikan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Ada juga yang karena di perusahaan yang baru, dia melihat system pelatihan dan pengembangan karyawannya jauh lebih baik dibandingkan perusahaan lama yang ditinggalkannya. Jadi, mulai sekarang perusahaan mesti perpikir beyond material/financial reward untuk merentensi talenta potensialnya. Karena kebutuhan esensial manusia, tidak semata-mata terletak pada pemenuhan materi belaka.

Memang, ada talenta yang gampang tergiur dengan iming-iming uang. Dijanjikan gaji lebih besar pun dia akan segera terbang. Tapi, the true talent biasanya adalah orang yang tidak semata-mata mengejar uang.

6.      Darimana saja figure-figur kunci itu diperoleh perusahaan, apakah dari dalam organisasi atau meng-hire dari luar ?
Ciri perusahaan yang berhasil dalam proses suksesinya adalah; tidak pusing mencari orang-orang yang bisa memegang posisi kunci dari dalam organisasinya sendiri. Kalau ada perusahaan yang masih mencari-cari figur-figur dari luar organisasi, maka itu mengindikasikan jika system dan proses suksesinya belum berjalan dengan baik. Artinya apa? You have to start building your own capability to develop your people to support your succession plan.  And it has to be done, now.

0 komentar:

Posting Komentar